Kamis, 12 Januari 2017

Ujian, Jujur aja deh !

TIPS JUJUR WAKTU UJIAN


Ujian menjadi salah satu “momok” bagi setiap pelajar atau mahasiswa. Mengapa ? karena melalui ujian inilah kemampuan setiap individu diuji, baik itu pengetahuan( kognitif) maupun praktek (psikomotorik). Tak jarang di antara mereka rela belajar sampai larut malam atau yang lebih dikenal dengan “SKS” (Sistem Kebut Semalam) hanya untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, ada kebiasaan yang sangat memprihatinkan yang seringkali dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa yaitu MENYONTEK. Ya, Aktivitas menyontek atau ‘tengok-sana-tengok-sini’ ini menjadi salah satu hal yang dianggap lumrah oleh sebagian besar pelajar maupun siswa. Menyontek seolah-olah membuat si pelajar/mahasiswa menjadi lebih keren dan dianggap “loyal” oleh teman seperjuangan dan senasib. Padahal jika kamu tilik kembali banyak sekali kerugian yang didapatkan ketika kamu melakukan aktivitas menyontek tersebut diantaranya
1.      
1    1. Berdosa
Tanpa kamu sadari menyontek merupakan salah satu dosa besar. Mengapa ?? karena menyontek sama saja dengan berbohong atau berdusta. Menyontek berarti kamu membohongi diri sendiri dan orang lain. Loh, kok bisa ?? yaps, membohongi diri sendiri berarti kamu tidak percaya akan kemampuan yang kamu miliki. Kamu tidak yakin kalau kamu mampu menjawab jawaban dengan benar tanpa bantuan dari orang lain. Hal ini tentu akan mengakibatkan menurunnya tingkat kerpercayaan terhadap diri. Selain itu, kamu pun juga melakukan dosa lain yaitu membohongi orang lain, khususnya pengajar. Setiap pengajar menginginkan pelajar atau mahasiswa mengerjakan ujian dengan jujur. Karena melalui ujian inilah mereka dapat mengevaluasi tingkat kemampuan siswa/mahasiswanya. Tapi, bagaimana kalau yang diuji justru asyik asal tengok-sana-tengok-sini ? meskipun banyak diantara mereka yang tidak ketahuan alias “berhasil menyontek dengan mulus” tapi tetap saja dosa adalah dosa. Toh, Tuhan juga tau kok. Toh malaikat juga mencatat kok J. Jadi? Bener mau melakukan dosa besar ? Pikirkan lagi deh..

2. Mempengaruhi penilaian
Tentu saja dalam melakukan penilaian  setiap pengajar tidak hanya menilai dari segi pengetahuan ataupun keterampilan saja. Namun juga sikap atau yang lebih dikenal dengan istilah afektif. Terlebih lagi saat ini pada kurikulum 2013 setiap guru diwajibkan melakukan penilaian dari ketiga aspek yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Inilah salah satu hal yang tidak diketahui siswa atau mahasiswa, guru dan dosen sepertinya terlihat sangat cuek ketika ujian tiba, tapi sebenarnya mereka juga melakukan observasi terhadap kerja siswa atau mahasiswanya saat ujian loh, termasuk menilai kejujuran. Setiap pengajar memiliki daftar penilaian atau rubrik penilaian yang mana di dalamya terdapat aspek-aspek yang dinilai baik kognitif, psikomotorik,  maupun afektif dan memiliki gradasi atau tingkatan tertentu. Hal ini tentunya secara konsisten rutin dilakukan oleh pengajar. Jadi, tak heran mengapa pernah terjadi kasus siswa pintar yang tidak lulus atau tidak naik kelas hanya karena mereka melakukan hal buruk selama sekolah, termasuk menyontek.

3. Meningkatkan rasa ketergantungan dengan orang lain
Selain menurunkan tingkat kepercayaan pada diri sendiri, hal fatal lainnya yang merupakan dampak buruk mecontek adalah ketergantungan. Yaps, menyontek seperti efek kafein pada kopi yang membuat orang menjadi “kecanduan”. Bagaimana tidak ? tanpa kamu sadari saat kamu mengerjakan sendiri dan tidak mampu menjawabnya, apalagi soal yag sangat rumit, otak kamu akan berputar 360 derajat untuk mencari jawaban. Alhasil, terjadilah aktivitas tengok-sana-tengok-sini. Padahal, apabila ditelusuri lebih lanjut jawaban yang diberikan oleh temanmu saat ujian belum tentu benar. Tapi anehnya mengapa sampai saat ini masih saja para “oknum pencontek sejati” ini merasa yakin akan jawaban yang belum pasti. Siapa sih yang mau digantungin sama jawaban yang tidak pasti? masih mau digantungin sama yang namanya menyontek ?

3. Citra buruk bangsa
Loh apa-apaan ini ? citra buruk bangsa ? yapss.. efek buruk ini merupakan akumulasi dari ratusan hingga ribuan pelajar atau mahasiswa “pejuang menyontek” dari seluruh pelosok Indonesia. Menyontek memang hal yang selalu dianggap “sepele” namun ternyata dapat melahirkan bibit-bibit  ketidakjujuran atau dengan kata lain generasi koruptor di Indonesia. Percuma saja pintar tapi hasil menyontek. Bisa jadi koruptor-koruptor yang lahir dan terpelihara di Indonesia ini merupakan orang-rang yang pintar tapi memiliki “kenangan-kenangan ketidakjujuran” yang sudah terkumulasi sejak SD bahkan mahasiswa. Maka dari itu, tidak heran apabila Indonesia merupakan salah satu negara berpenghasilan koruptor terbanyak di dunia. Bagaimana tidak? Masa lalu mereka pernuh dengan ketidakjujuran. Seharusnya kita malu karena citra bangsa Indonesia dipandang rendah dan buruk oleh negara-negara di dunia. Memang, pemerintah selalu melakukan perbaikan terhadap sistem pendidikan kita. Namun, itu semua tidaklah cukup apabila SDMnya juga tidak diperbaiki dengan  penanaman moral sejak dini. Tak hanya itu, orang tua pun juga ikut andil dalam penanaman moral setiap pelajar/mahasiswa karena mereka lahir dan berangkat dari sebuah keluarga. So, masih mau kan memperbaiki citra buruk bangsa ? J

Berdasarkan penjelasan tersebut sudah seyogyanya kita sebagai generasi penerus bangsa melakukan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi aktivitas menyontek. Hal tersebut dapat kita mulai dari diri sendiri. Berikut ini tips-tips yang dapat kalian lakukan ketika ujian agar terhindar dari kegiatan menyontek.

1. Berdoa dengan niat yang baik dan benar
Berdoa sebelum ujian merupakan aktivitas yang selalu dilakukan pelajar ataupun mahasiswa sebelum mereka mengerjakan ujian. Baik mereka yang mengerjakan dengan jujur maupun si “oknum pencontek sejati”. Berdoa hendaknya dilakukan dengan niat yang baik dan benar. Baik berarti kita mengetahui adab atau cara dalam berdoa,  sedangkan benar berarti kita paham isi doa yang kita panjatkan. Misalnya saja ketika kita berdoa supaya diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan ujian berarti kita meminta pertolongan hanya kepada Tuhan saja, tidak dengan orang lain. Inilah hal-hal yang terkadang disepelekan oleh sebagian besar pelajar dan mahasiswa. Mereka kurang paham dengan makna dari doa yang dipanjatkan. So, perbaikilah niat dan berdoalah dengan baik dan benar J.

2.      Duduklah di bangku terdepan
Usahakan ketika ujian tiba, pilihlah tempat duduk di bagian terdepan. Kalau toh tidak bisa ambillah yang kedua atau yang ketiga, yang penting termasuk bagian terdepan dalam kelas. Alasanya cukup sederhana, supaya kita tetap fokus ketika mengerjakan ujian dan tidak terpengaruh dengan teman-teman kita, baik yang berada di samping kanan-kiri, maupun di belakang. Selain itu, kita akan terhidar dari “oknum pecontek sejati”. Toh mereka juga akan merasa apes alias sial ketika mereka mendapatkan tempat terdepan saat ujian. Bagi mereka tempat duduk paling depan bukanlah tempat yang strategis untuk melakukan akitivitas meyontek. Menyontek akan tidak lancar dan mulus sesuai ekspektasi. Semboyan “tempat duduk mempengaruhi prestasi” adalah prinsip yang tidak boleh diganggu gugat oleh si oknum. So, duduklah di tempat yang tidak disenangi alias paling depan agar kita terhindar dari belenggu syaitan-syaitan yang menyesatkan J.

3.      Pelajari materi yang akan diujikan secara rutin
Terkadang alasan orang menyontek karena mereka belum seluruhnya memahami isi materi yang akan diujikan atau mereka belum mempelajarinya. Hindarilah sistem kebut semalam atau SKS karena hal ini akan memicu diri kita untuk bertanya kepada orang lain. Pelajarilah secara rutin, misalnya sebelum dan sesudah guru memberi materi. Namun, kalau toh tidak bisa, belajar SKS juga tidak salah asalkan kita telah memahami materi tersebut dengan baik sehingga SKS hanya digunakan sebagai pengingat kembali materi yang sedikit terlupakan. Apabila kita benar-benar tidak paham dengan materi tersebut, bertanyalah pada guru/ dosen ataupun teman sebelum ujian. 

4.      “Berpura-pura”-lah tidak mendengar ketika ada teman yang bertanya tentang jawaban
Inilah hal tersulit yang dialami oleh kita yang menginginkan hasil ujian yang didapat merupakan buah hasil kejujuran. Banyak di antara “oknum penyontek sejati” yang menganggap “sok alim”, “gak gaul”, “cupu” ataupun celaan lainnya yang seolah-olh meremehkan keberadaan kita yang ingin bertindak jujur. Terlebih lagi ketika teman kita bertanya tentang jawaban, sontak di dalam pikiran kita terbesit empat pilihan, pertama, langsung memberikan jawaban kita karena rasa tidak enak dan sedikit terpaksa, kedua, memberikan jawaban yang melenceng dengan alibi agar mereka mendapatkan pelajaran supaya tidak mencontek lagi, ketiga, menjawab “tidak tahu” supaya kita terhindar dari pertanyaan berikutnya, ataupun, keempat, pura-pura tidak mendengar alias “tuli dadakan”. Yah, menurut saya opsi terakhir adalah opsi paling jitu untuk menghindari kita dari memberikan jawaban terhadap teman. Alasannya, dengan “berpura-pura tuli” kita tidak akan mengecewakan teman kita, kenapa? Mereka tentunya akan beranggapan bahwa kita memiliki konsentrasi yang tinggi untuk mengerjakan soal sehingga untuk menengok saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Alhasil, mereka, si “oknum penyontek sejati” akan kesal setiap kali memanggil nama kita, tentu saja selain membutuhkan waktu yang lama, mereka pun juga takut kalau ketahuan. Alasan lain mengapa “berpura-pura” tidak mendengar adalah baik yaitu kita tidak mengganggu konsentrasi teman yang lain. Hal ini karena kita tidak akan melakukan percakapan dengan si oknum sehingga tidak akan mengganggu teman yang lain.

5.      Menghindari percakapan di sisa waktu ujian
Mengobrol memang mengasyikkan, tapi kita juga perlu mengetahui kondisi yang tepat untuk melakukannya. Janganlah mengobrol atu bercakap-cakap dengan teman di sisa waktu ujian. Mengapa? selain mengganggu konsentrasi teman yang masih mengerjakan, di situlah akan tersisip pula sebuah obrolan yang merupakan “kode rahasia” dari “oknum penyontek sejati”. Alhasil, bukan hanya obrolan biasa , namun justru menyontek yang berkedok obrolan. Selain itu, guru atau dosen justru curiga terhadap kita meskipun percakapan yang dilakukan diluar dari pokok bahasan ujian, misalnya curhat tentang matan #eh. Guru atau dosen yang tidak tahu kemudian akan mencatat nama kita dan memberikan penilaian buruk terhadap kita. Jadi, saran saya, lebih baik meninggalkan ruang ujian setelah selesai mengerjakan dan hindari percakapan di sisa waktu ujian. Selain kita dapat memanfaatkan waktu untk mempelajari materi yang lain, kita juga akan terhindar dari curiga.

Itulah tips-tips singkat yang dapat saya berikan. Semoga saja bermanfaat bagi pembaca. Belajarlah untuk jujur meski pahit rasanya, karena kejujuran adalah bentuk citra diri yang sesungguhnya. Kejujuran memang tidak selalu manis rasanya, tapi percayalah dengan bertindak jujur kita akan memetik buah kesuksesan..
So  manfaatkan waktumu dengan sebaik-baiknya J #beranijujur #berani hebat J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar