Kamis, 12 Januari 2017

Bahaya Pemanis Buatan


Manis tapi Tak Sehat

Makanan dan minuman yang memiliki rasa manis banyak digemari oleh masyarakat, khususnya anak-anak. Rasa manis dapat ditimbulkan secara alami dari bahan tersebut, misalnya buah-buahan maupun bahan yang sengaja ditambahkan atau yang lebih dikenal dengan pemanis buatan. Namun, pemanis alami jarang digunakan oleh industri karena harganya yang relatif mahal. Pemanis buatan dinilai lebih efektif untuk menekan biaya produksi. Selain harga yang relatif murah, bahan tambahan tersebut memiliki rasa manis yang cukup kuat karena persentase kandungan pemanis yang lebih tinggi dibandingkan dengan pemanis alami seperti gula. Namun, masih banyak produsen, khususnya pedagang kaki lima yang tidak mengetahui takaran yang diperbolehkan sehingga hal tersebut dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan tubuh diantaranya menimbulkan berbagai macam penyakit. Kandungan senyawa kimia yang terdapat di dalam pemanis buatan bersifat karsinogenik. Oleh karena itu, pemerintah melalui Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor 4 tahun 2014 telah mengatur penggunaan batas maksimum bahan tambahan pangan pemanis.
Akan tetapi, sebagian besar masyarakat belum mengetahui bahaya yang dapat ditimbulkan dari bahan tambahan tersebut terhadap kesehatan apabila dikonsumsi secara berlebihan terutama anak-anak. Umumnya anak-anak setiap hari menghabiskan ¼ waktunya di sekolah. Anak-anak sekolah lebih banyak mengkonsumsi makanan jajanan kaki lima. Hasil kajian terbatas yang dilakukan Badan POM di beberapa sekolah dasar (SD) menemukan banyaknya anak yang mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung kadar pemanis buatan sakarin dengan tingkat yang tidak aman. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan dan kontrol orangtua terhadap anak-anak dalam mengkonsumsi makanan dan minuman. Selain itu, pedagang juga perlu mengetahui batasan maksimum yang dapat digunakan untuk memberikan tambahan pangan pemanis buatan.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan, pemanis adalah bahan tambahan pangan berupa pemanis alami dan pemanis buatan yang memberikan rasa manis pada produk pangan. Pemanis alami merupakan pemais yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan hasil hewan, misalnya sukrosa, glukosa, dan fruktosa. Sukrosa dan glukosa dapat berasal dari gula pasir dan gula kelapa. Sedangkan fruktosa berasal dari madu, buah-buahan maupun sayuran. Pemanis buatan (artificial sweetener) adalah pemanis yang diproses secara kimiawi dan senyawa tersebut tidak terdapat di alam serta dapat menimbulkan dan mempertajam rasa manis. Namun pemanis buatan memiliki kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan gula sehingga dapat dikatakan sebagai pemanis nirgizi (tidak berkalori). Umumnya, pemanis buatan memiliki struktur kimia yang berbeda dengan gula (Winarno, F.G., 1991: 218).

Mulanya, pemanis buatan digunakan sebagai alternatif pemanis bagi penderita diabetes karena memiliki tingkat kemanisan yang tinggi dengan kandungan gizi yang lebih rendah dibandingkan pemanis alami sehingga dianggap aman untuk dikonsumsi dalam takaran sedikit. Namun saat ini penggunaan bahan tersebut telah secara meluas digunakan di pasaran khususnya produk makanan dan minuman. Pemanis buatan memiliki fungsi antara lain sebagai pengawet, meningkatkan cita rasa dan aroma, memperbaiki sifat-sifat fisik, serta memperbaiki sifat-sifat kimia.
Penggunaan bahan tambahan pangan tersebut didasarkan pada ADI (acceptable daily intake) yaitu jumlah bahan tambahan pangan yang dapat digunakan tanpa menimbulkan bahaya terhadap kesehatan. Berdasarkan Permenkes No 3 tahun 2012 jenis-jenis pemanis buatan meliputi, sakarin, siklamat, dan aspartam.  

a.       Sakarin
Sakarin merupakan salah satu pemanis yang sering digunakan oleh pedagang kaki lima untuk menjual makanan dan minuman seperti permen gulali, es krim, es lilin, jeli, minuman, jamu dan keripik. Menurut Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor 4 tahun 2014 acceptable daily intake sakarin yaitu 0,5mg/kgBB/hari. Hal ini berarti apabila seseorang memiliki berat badan 50 kg maka batas maksimum sakarin yang dapat dikonsumsi setiap harinya yaitu  50x0,5 mg atau 25 mg atau jika seseorang mengkonsumsi kue dengan kandungan sakarin 500 mg/kg bahan, maka batas maksimum mengkonsumsi bahan makanan tersebut adalah 25/500x1 kg atau 0,5 g kue.

Sakarin memiliki rumus kimia C7H5NO3S berupa serbuk berwarna putih, tidak berbau, dan tidak mudah larut dalam air. Sakarin biasa digunakan dalam bentuk garam natrium, kalium, maupun kalsium. Kemanisan sakarin sekitar 300 kali sukrosa (gula). Sakarin memiliki struktur kimia berikut ini 

(Wisnu, Cahyadi, 2005: 68).

b.         Siklamat
Siklamat atau yang lebih dikenal dengan glutamat (C6H11NHSO3Na ) memiliki acceptable daily intake sebesar 11 mg/kgBB/hari. Siklamat berbentuk kristal berwarna putih, tidak berbau, tidak berwarna, dan mudah larutdalam alcohol serta memiliki intensitas ±30 kali dibandingkan sukrosa (gula). Siklamat lebih tahan panas dan memiliki struktur kimia
.

(Wisnu, Cahyadi, 2005: 66).
Produk yang sering menggunakan bahan tambahan ini yaitu makanan atau minuman kaleng seperti ikan kaleng, susu, sirup, dan makanan siap saji serta minuan bersoda. Berbeda dengan sakarin, siklamat cenderung memiliki rasa yang tidak pahit sehinga penggunaannya dapat dicampur dengan sakarin untuk menambah cita rasa.

C.        Aspartam
Aspartam memiliki rumus kimia C14H16N2O5. Aspartam berbentuk tepung kristal berwarna putih, tidak berbau, sedikit larut dalam air, dan berasa manis. Aspartam memiliki daya kemanisan 250 kali dibandingkan dengan sukrosa (gula). Adapun struktur kimia aspartam yaitu


(Wisnu, Cahyadi.2005:67).

Aspartam digunakan pada produk makanan dan minuman seperti permen penyegar napas, yogurt bebas gula, jus, minuman ringan non-karbonasi, permen karet dan memiliki acceptable daily intake O,4 mg/kgBB/hari.

Pemerintah melalui Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan RI nomor 4 tahun 2014 dalam pasal 5 menyebutkan bahwa “BTP hanya boleh digunakan tidak melebihi batas makasimum penggunaan dalam kategori pangan”. Bahan tambahan tersebut apabila digunakan dalam takaran yang berlebihan akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Adapun ciri-ciri bahan makanan yang menggunakan bahan pemanis buatan diantaranya
1.         memiliki rasa yang manis pekat
makanan atau minuman akan terasa sangat manis dan tak jarang apabila setelah mengkonsumsinya akan menimbulkan rasa tidak nyaman atau “eneg”.
2.      terdapat rasa pahit atau “overtaste”
pemanis yang terkandung dalam makanan atau minuman akan meninggalkan sisa rasa pahit dalam mulut. Hal ini disebabkan adanya kandungan bahan kimia seperti logam.
3.      membuat tenggorokan menjadi kering
salah satu ciri yang menunjukkan keberadaan pemanis buatan dalam makanan atau minuman yaitu tenggorokan terasa kering sehingga menyebabkan rasa haus yang berlebihan. Jika tidak segera minum air putih, biasanya akan timbul serangan batuk atau gatal pada tenggorokan. Hal ini disebabkan oleh adanya senyawa belerang yang terkandung di dalamnya dan dapat menyebabkan iritasi pada tenggorokan.

Berdasarkan penelitian kimia tentang histopalogi hati mencit (tikus) yang dilakukan oleh Y utomo dkk menyebutkan bahwa sakarin dapat merusak organ hati dalam jangka waktu lama dengan dosis yang berlebihan. Selain itu, timbunan sakarin yang ada di dalam tubuh akan bersifat toksik atau racun yang akan mengakibatkan organ tubuh mengalami kerusakan, menimbulkan anemia, meningkatkan kadar bilirubin, serta tumor. Sedangkan pada pemanis aspartam, apabila dikonsumsi secara berlebihan akan menyebabkan fenilketunori. Fenilketonuria merupakan penyakit kerusakan metabolisme tubuh yang dapat mempengaruhi proses pemecahan protein dalam tubuh. Bahaya aspartam lainnya bagi kesehatan yaitu diabetes, kanker,  bayi cacat, epilepsi, sakit kepala, masalah perilaku, sesak nafas, dan alergi (Deny Indra, 2015: 83-85).
Selain sakarin dan aspartam, pemanis siklamat juga dapat berdampak buruk apabila dikonsumsi secara berlebihan. Adapun penyakit yang ditimbulkan diantaranya migrain, kehilangan daya ingat, bingung, insomnia, iritasi, asma, hipertensi, diare, sakit perut, alergi, impotensi dan gangguan seksual, kebotakan dan kanker otak (Wardhani, 2006). Sedangkan menurut penelitian hermatologis terhadap tikus putih (Rattus Norvegicus L) disebutkan bahwa siklamat dapat menurunkan kadar hemoglobin darah dan pada dosis yang lebih tinggi dapat menurunkan eritrosit dan meningkatkan leukosit darah.  Selain itu, siklamat mengandung senyawa karsinogenik. Hal ini dapat dilihat dari reaksi hidrolisis Na-siklamat menjadi sikloheksil heksana berikut ini.
Sikloheksil heksana merupakan senyawa karsinogenik atau penyebab kanker (Sakidja, 1989: 498). Martin et al menyatakan bahwa tikus yang diberikan natrium siklamat secara intraperitoneal dalam jangka waktu 10 sampai 14 hari menyebabkan gangguan kehamilan seperti berkurangnya berat janin, berat plasenta dan panjang tali pusat (retardasi perkembangan janin), serta terjadinya hipertrofi sel hati dengan sinusoi kaliber kecil.

Pemanis buatan yan dikonsumsi secara berlebihan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit sehingga perlu adanya tindakan preventif terutama bagi orangtua untuk mengawasi dan mengontrol makanan yang dikonsumsi oleh anak-anak. Adapun usaha yang dapat dilakukan yaitu pertama, mengurangi konsumsi makanan dan minuman dengan bahan pemanis buatan, baik kemasan pabrik maupun yang dijual oleh pedagang kaki lima. Kedua, memperbanyak konsumsi buah-buahan karena buah mengandung pemanis alami dengan jumlah kalori yang cukup dibutuhan oleh tubuh. Buah-buahan mengandung senyawa antioksidan yang dapat mencegah timbulnya sel-sel kanker dalam tubuh. Selain itu, buah juga mengandung lebih banyak vitamin, mineral, serat, air serta nutrisi yang berguna untuk kesehatan tubuh. Ketiga, mengganti pemakaian pemanis buatan dengan pemanis alami seperti gula dan madu. Hal ini karena pemanis alami cenderung tidak memiliki dampak negatif bagi tubuh. Keempat, mencermati label gizi yang berada dalam kemasan makanan dan minuman sebelum mengkonsumsi. Label gizi dapat memberikan informasi tentang jumlah kalori dan kandungan bahan dalam kemasansehingga konsumen dapat menetukan pilihan produk makanan dan minuman yang tepat dan sehat bagi tubuh. Kelima, mengurangi minuman bersoda. Minuman bersoda biasanya mengandung pemanis buatan berupa aspartam. Jika minuman tersebut dikonsumsi secara berlebihan maka akan berdampak buruk bagi kesehatan.

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa pemanis buatan merupakan zat yang dapat menimbulkan dan mempertajam rasa manis serta mengandung kalori yang lebih rendah dibandingkan dengan gula. Jenis-jenis pemanis buatan diantaranya sakarin, siklamat, dan aspartam. Penggunaannya sebagai bahan tambahan secara berlebihan dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, mulai dari penyakit ringan hingga berat seperti kanker dan tumor. Oleh karena itu, dibutuhkan tindakan preventif untuk mencegah dampak buruk akibat mengkonsumsi bahan tambahan tersebut yaitu dengan mengurangi konsumsi, mengganti dengan pemanis alami, mengkonsumsi buah-buahan, dan mencermati label gizi sebelum hendak membeli. Masyarakat  khususnya orangtua hendaknya menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh pemanis buatan, terutama pengawasan terhadap anak-anak. Selain itu, perlu adanya sosialisasi dari pemerintah tentang bahaya yang dapat ditimbulkan dari pemanis buatan.



DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, Riandini. dkk. Efek Pemberian Natrium Siklamat secara Oral terhadap Karakteristik Hematologis Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.). Jurnal Biosmart. 2003 2(5): 124-130.
Cahyadi wisnu, 2005. Analisis dan Aspek Kesehatan Bahan Tambahan Pangan, Jakarta : PT Bumi Aksara.
Martin et al. 2005. Effect of Sodium Cyclamate on the Rat Fetal Liver : a karyometric and stereological study. Int. J. Morphol. 23(3): 221-226.
Praja, Deny Indra. 2015. Zat Aditif Makanan: Manfaat dan Bahayanya. Yogyakarta : Garudhagawaca.
Sakidja, 1989. Kimia Pangan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 33 tahun 2012 tentang bahan tambahan pangan
Winarno, F.G. 1991. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta : PT Gramedia Pustaka.

Utomo, Y. dkk. Studi Hispatologi Hati Mencit (Mus Musculus L.) diinduksi Pemanis Buatan. Jurnal MIPA. 2012 35 (2): 122-129 .

Ujian, Jujur aja deh !

TIPS JUJUR WAKTU UJIAN


Ujian menjadi salah satu “momok” bagi setiap pelajar atau mahasiswa. Mengapa ? karena melalui ujian inilah kemampuan setiap individu diuji, baik itu pengetahuan( kognitif) maupun praktek (psikomotorik). Tak jarang di antara mereka rela belajar sampai larut malam atau yang lebih dikenal dengan “SKS” (Sistem Kebut Semalam) hanya untuk mendapatkan nilai yang memuaskan. Namun, ada kebiasaan yang sangat memprihatinkan yang seringkali dilakukan oleh pelajar atau mahasiswa yaitu MENYONTEK. Ya, Aktivitas menyontek atau ‘tengok-sana-tengok-sini’ ini menjadi salah satu hal yang dianggap lumrah oleh sebagian besar pelajar maupun siswa. Menyontek seolah-olah membuat si pelajar/mahasiswa menjadi lebih keren dan dianggap “loyal” oleh teman seperjuangan dan senasib. Padahal jika kamu tilik kembali banyak sekali kerugian yang didapatkan ketika kamu melakukan aktivitas menyontek tersebut diantaranya
1.      
1    1. Berdosa
Tanpa kamu sadari menyontek merupakan salah satu dosa besar. Mengapa ?? karena menyontek sama saja dengan berbohong atau berdusta. Menyontek berarti kamu membohongi diri sendiri dan orang lain. Loh, kok bisa ?? yaps, membohongi diri sendiri berarti kamu tidak percaya akan kemampuan yang kamu miliki. Kamu tidak yakin kalau kamu mampu menjawab jawaban dengan benar tanpa bantuan dari orang lain. Hal ini tentu akan mengakibatkan menurunnya tingkat kerpercayaan terhadap diri. Selain itu, kamu pun juga melakukan dosa lain yaitu membohongi orang lain, khususnya pengajar. Setiap pengajar menginginkan pelajar atau mahasiswa mengerjakan ujian dengan jujur. Karena melalui ujian inilah mereka dapat mengevaluasi tingkat kemampuan siswa/mahasiswanya. Tapi, bagaimana kalau yang diuji justru asyik asal tengok-sana-tengok-sini ? meskipun banyak diantara mereka yang tidak ketahuan alias “berhasil menyontek dengan mulus” tapi tetap saja dosa adalah dosa. Toh, Tuhan juga tau kok. Toh malaikat juga mencatat kok J. Jadi? Bener mau melakukan dosa besar ? Pikirkan lagi deh..

2. Mempengaruhi penilaian
Tentu saja dalam melakukan penilaian  setiap pengajar tidak hanya menilai dari segi pengetahuan ataupun keterampilan saja. Namun juga sikap atau yang lebih dikenal dengan istilah afektif. Terlebih lagi saat ini pada kurikulum 2013 setiap guru diwajibkan melakukan penilaian dari ketiga aspek yaitu kognitif, psikomotorik, dan afektif. Inilah salah satu hal yang tidak diketahui siswa atau mahasiswa, guru dan dosen sepertinya terlihat sangat cuek ketika ujian tiba, tapi sebenarnya mereka juga melakukan observasi terhadap kerja siswa atau mahasiswanya saat ujian loh, termasuk menilai kejujuran. Setiap pengajar memiliki daftar penilaian atau rubrik penilaian yang mana di dalamya terdapat aspek-aspek yang dinilai baik kognitif, psikomotorik,  maupun afektif dan memiliki gradasi atau tingkatan tertentu. Hal ini tentunya secara konsisten rutin dilakukan oleh pengajar. Jadi, tak heran mengapa pernah terjadi kasus siswa pintar yang tidak lulus atau tidak naik kelas hanya karena mereka melakukan hal buruk selama sekolah, termasuk menyontek.

3. Meningkatkan rasa ketergantungan dengan orang lain
Selain menurunkan tingkat kepercayaan pada diri sendiri, hal fatal lainnya yang merupakan dampak buruk mecontek adalah ketergantungan. Yaps, menyontek seperti efek kafein pada kopi yang membuat orang menjadi “kecanduan”. Bagaimana tidak ? tanpa kamu sadari saat kamu mengerjakan sendiri dan tidak mampu menjawabnya, apalagi soal yag sangat rumit, otak kamu akan berputar 360 derajat untuk mencari jawaban. Alhasil, terjadilah aktivitas tengok-sana-tengok-sini. Padahal, apabila ditelusuri lebih lanjut jawaban yang diberikan oleh temanmu saat ujian belum tentu benar. Tapi anehnya mengapa sampai saat ini masih saja para “oknum pencontek sejati” ini merasa yakin akan jawaban yang belum pasti. Siapa sih yang mau digantungin sama jawaban yang tidak pasti? masih mau digantungin sama yang namanya menyontek ?

3. Citra buruk bangsa
Loh apa-apaan ini ? citra buruk bangsa ? yapss.. efek buruk ini merupakan akumulasi dari ratusan hingga ribuan pelajar atau mahasiswa “pejuang menyontek” dari seluruh pelosok Indonesia. Menyontek memang hal yang selalu dianggap “sepele” namun ternyata dapat melahirkan bibit-bibit  ketidakjujuran atau dengan kata lain generasi koruptor di Indonesia. Percuma saja pintar tapi hasil menyontek. Bisa jadi koruptor-koruptor yang lahir dan terpelihara di Indonesia ini merupakan orang-rang yang pintar tapi memiliki “kenangan-kenangan ketidakjujuran” yang sudah terkumulasi sejak SD bahkan mahasiswa. Maka dari itu, tidak heran apabila Indonesia merupakan salah satu negara berpenghasilan koruptor terbanyak di dunia. Bagaimana tidak? Masa lalu mereka pernuh dengan ketidakjujuran. Seharusnya kita malu karena citra bangsa Indonesia dipandang rendah dan buruk oleh negara-negara di dunia. Memang, pemerintah selalu melakukan perbaikan terhadap sistem pendidikan kita. Namun, itu semua tidaklah cukup apabila SDMnya juga tidak diperbaiki dengan  penanaman moral sejak dini. Tak hanya itu, orang tua pun juga ikut andil dalam penanaman moral setiap pelajar/mahasiswa karena mereka lahir dan berangkat dari sebuah keluarga. So, masih mau kan memperbaiki citra buruk bangsa ? J

Berdasarkan penjelasan tersebut sudah seyogyanya kita sebagai generasi penerus bangsa melakukan upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengurangi aktivitas menyontek. Hal tersebut dapat kita mulai dari diri sendiri. Berikut ini tips-tips yang dapat kalian lakukan ketika ujian agar terhindar dari kegiatan menyontek.

1. Berdoa dengan niat yang baik dan benar
Berdoa sebelum ujian merupakan aktivitas yang selalu dilakukan pelajar ataupun mahasiswa sebelum mereka mengerjakan ujian. Baik mereka yang mengerjakan dengan jujur maupun si “oknum pencontek sejati”. Berdoa hendaknya dilakukan dengan niat yang baik dan benar. Baik berarti kita mengetahui adab atau cara dalam berdoa,  sedangkan benar berarti kita paham isi doa yang kita panjatkan. Misalnya saja ketika kita berdoa supaya diberi kemudahan dan kelancaran dalam mengerjakan ujian berarti kita meminta pertolongan hanya kepada Tuhan saja, tidak dengan orang lain. Inilah hal-hal yang terkadang disepelekan oleh sebagian besar pelajar dan mahasiswa. Mereka kurang paham dengan makna dari doa yang dipanjatkan. So, perbaikilah niat dan berdoalah dengan baik dan benar J.

2.      Duduklah di bangku terdepan
Usahakan ketika ujian tiba, pilihlah tempat duduk di bagian terdepan. Kalau toh tidak bisa ambillah yang kedua atau yang ketiga, yang penting termasuk bagian terdepan dalam kelas. Alasanya cukup sederhana, supaya kita tetap fokus ketika mengerjakan ujian dan tidak terpengaruh dengan teman-teman kita, baik yang berada di samping kanan-kiri, maupun di belakang. Selain itu, kita akan terhidar dari “oknum pecontek sejati”. Toh mereka juga akan merasa apes alias sial ketika mereka mendapatkan tempat terdepan saat ujian. Bagi mereka tempat duduk paling depan bukanlah tempat yang strategis untuk melakukan akitivitas meyontek. Menyontek akan tidak lancar dan mulus sesuai ekspektasi. Semboyan “tempat duduk mempengaruhi prestasi” adalah prinsip yang tidak boleh diganggu gugat oleh si oknum. So, duduklah di tempat yang tidak disenangi alias paling depan agar kita terhindar dari belenggu syaitan-syaitan yang menyesatkan J.

3.      Pelajari materi yang akan diujikan secara rutin
Terkadang alasan orang menyontek karena mereka belum seluruhnya memahami isi materi yang akan diujikan atau mereka belum mempelajarinya. Hindarilah sistem kebut semalam atau SKS karena hal ini akan memicu diri kita untuk bertanya kepada orang lain. Pelajarilah secara rutin, misalnya sebelum dan sesudah guru memberi materi. Namun, kalau toh tidak bisa, belajar SKS juga tidak salah asalkan kita telah memahami materi tersebut dengan baik sehingga SKS hanya digunakan sebagai pengingat kembali materi yang sedikit terlupakan. Apabila kita benar-benar tidak paham dengan materi tersebut, bertanyalah pada guru/ dosen ataupun teman sebelum ujian. 

4.      “Berpura-pura”-lah tidak mendengar ketika ada teman yang bertanya tentang jawaban
Inilah hal tersulit yang dialami oleh kita yang menginginkan hasil ujian yang didapat merupakan buah hasil kejujuran. Banyak di antara “oknum penyontek sejati” yang menganggap “sok alim”, “gak gaul”, “cupu” ataupun celaan lainnya yang seolah-olh meremehkan keberadaan kita yang ingin bertindak jujur. Terlebih lagi ketika teman kita bertanya tentang jawaban, sontak di dalam pikiran kita terbesit empat pilihan, pertama, langsung memberikan jawaban kita karena rasa tidak enak dan sedikit terpaksa, kedua, memberikan jawaban yang melenceng dengan alibi agar mereka mendapatkan pelajaran supaya tidak mencontek lagi, ketiga, menjawab “tidak tahu” supaya kita terhindar dari pertanyaan berikutnya, ataupun, keempat, pura-pura tidak mendengar alias “tuli dadakan”. Yah, menurut saya opsi terakhir adalah opsi paling jitu untuk menghindari kita dari memberikan jawaban terhadap teman. Alasannya, dengan “berpura-pura tuli” kita tidak akan mengecewakan teman kita, kenapa? Mereka tentunya akan beranggapan bahwa kita memiliki konsentrasi yang tinggi untuk mengerjakan soal sehingga untuk menengok saja dibutuhkan waktu yang cukup lama. Alhasil, mereka, si “oknum penyontek sejati” akan kesal setiap kali memanggil nama kita, tentu saja selain membutuhkan waktu yang lama, mereka pun juga takut kalau ketahuan. Alasan lain mengapa “berpura-pura” tidak mendengar adalah baik yaitu kita tidak mengganggu konsentrasi teman yang lain. Hal ini karena kita tidak akan melakukan percakapan dengan si oknum sehingga tidak akan mengganggu teman yang lain.

5.      Menghindari percakapan di sisa waktu ujian
Mengobrol memang mengasyikkan, tapi kita juga perlu mengetahui kondisi yang tepat untuk melakukannya. Janganlah mengobrol atu bercakap-cakap dengan teman di sisa waktu ujian. Mengapa? selain mengganggu konsentrasi teman yang masih mengerjakan, di situlah akan tersisip pula sebuah obrolan yang merupakan “kode rahasia” dari “oknum penyontek sejati”. Alhasil, bukan hanya obrolan biasa , namun justru menyontek yang berkedok obrolan. Selain itu, guru atau dosen justru curiga terhadap kita meskipun percakapan yang dilakukan diluar dari pokok bahasan ujian, misalnya curhat tentang matan #eh. Guru atau dosen yang tidak tahu kemudian akan mencatat nama kita dan memberikan penilaian buruk terhadap kita. Jadi, saran saya, lebih baik meninggalkan ruang ujian setelah selesai mengerjakan dan hindari percakapan di sisa waktu ujian. Selain kita dapat memanfaatkan waktu untk mempelajari materi yang lain, kita juga akan terhindar dari curiga.

Itulah tips-tips singkat yang dapat saya berikan. Semoga saja bermanfaat bagi pembaca. Belajarlah untuk jujur meski pahit rasanya, karena kejujuran adalah bentuk citra diri yang sesungguhnya. Kejujuran memang tidak selalu manis rasanya, tapi percayalah dengan bertindak jujur kita akan memetik buah kesuksesan..
So  manfaatkan waktumu dengan sebaik-baiknya J #beranijujur #berani hebat J